Kamis, 18 Maret 2010

PERMASALAHAN PEMBELAJARAN IPA DI SD DAN SOLUSINYA

Permasalahan pendidikan di Indonesia seolah-olah tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Masalah-masalah yang akhir-akhir ini mencuat yaitu mutu pendidikan, perubahan kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, sistem evaluasi, sertifikasi guru, dan masalah-masalah lain yang menjadi proses belajar mengajar. Persoalan alam pembelajaran merupakan suaut dinamika kehidupan guru dan murid di sekolah. Masalah itu tidak akan pernah habis untuk dikupas dan tidak pernah tuntas dibahas. Maka dari itu, guru hendaknya dengan seprofesional mungkin, begitu juga dengan murid-murid, setiap tahun berganti murid, masalah yang dihadapi guru akan berbeda pula.

IPA sebagai suatu penopang pembelajaran memiliki permasalahan tersendiri yang ikut andil menjadi sebuah problematika wajah pendidikan tanah air. Simpony permasalahan ini seolah membuka tabir sejarah pendidikan yang tak pernah berubah seiring kemajuan dan perubahan kurikulum. Memang pada dasarnya kurikulum hadir bukan untuk menghilangkan masalah tetapi apakah problematika ini menjadi identitas negeri kita?

IPA bagi kalangan pelajar khususnya siswa SD, merupakan paradigma yang menakutkan bahkan disisi lain menimbulkan ketakutan yang berlebihan (phobia), hiperbolis ? tentu tidak.

Karakteristik IPA (Ilmu Eksak) menjadi sebuah dasar untuk menentukan sebuah pandangan yang baik bagi IPA khususnya anak IPA tetapi ini sudah menjawab IPA merupakan sebuah studi yang hanya mampu dilakukan sebagian orang dengan kata lain mempunyai stratifikasi khusus. Bagaimanakah anak yang tak mampu mempelajari IPA mengimbangi sebuah kehidupan yang akan mereka hadapi yaitu globalisasi yang menuntut bertahan pada pembelajaran holistik? Sesungguhnya mereka tidak pernah beruntung ke dunia ini.

Hancurnya paradigma kuno tentang IPA menjadi tema khususnya pembelajaran IPA di sekolah, khususnya di Sekolah Dasar (SD). Sebagai arena pembentuk dan pemberi watak usia dini anak sudah tidak suka pembelajaran IPA.

Oleh Choiri mengatakan bahwa banyak permasalahan pembelajaran IPA yang diangkat ke media tanpa adanya inovasi pembelajaran di kelas, seakan-akan tetap bertahan bahkan jatuh pada lobang yang sama, lantas bagaimana dengan kemajuan yang kita inginkan ?

Selain itu pemberian materipun harus diperhatikan, hal ini untuk menghindari kesalahan/kekurangan penerimaan konsep pada anak dengan benar dengan memperhatikan psikologi anak yang dimulai dari pembukaan, sampai evaluasi di akhir pembelajaran pertama ini.

Selain itu pembelajaran bermakna dimana penyampaian materi dengan contoh yang terdekat dengan anak sehingga akan lebih mudah memahami dan dirasakan lebih bernilai, maksudnya lebih bisa berguna bukan hanya sekedar teori dan menyenangkan.

Permasalahan lain yang timbul yaitu tidak adanya media pembelajaran yang memadai untuk menjelaskan suatu konsep diluar praktikumdan observasi. Hal ini akan mempersulit anak dalam memahami konsep sehingga tak jarang anak memahami diluar konsep yang sebetulnya jadi guru harus kreatif dan inovatif.

Berdasarkan hasil monitoring kelas pada saat pembelajaran IPA, banyak sekali masalah yang muncul yang dialami oleh guru, diantaranya :

1. Guru tidak siap mengajar, dalam arti terkadang guru belum memahami konsep materi yang diajarkan.

2. Kesulitan memahami pelajaran, guru sering kesulitan dalam memunculkan minat belajar anak.

3. Kurang optimal dalam penerapan metode pembelajran yang ada.

4. Kesulitan memilih dan menentukan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

5. Kesulitan menanamkan konsep yang benar pada siswa dan sering bersifat verbalistik.

Setelah ditemukan berbagai masalah dalam pembelajaran IPA SD dicatat dan diidentifikasi dan masalah tersebut dibahas dalam KKG IPA tiap guslah untuk membenahi berbagai macam kekurangan pembelajaran. Para guru bergantian melaksanakan microteaching, dihadapan guru lain secara bergantian sehingga masalah-masalah dalam pembelajaran dieliminiasi sekecil mungkin.

Kegiatan membenahi motivasi dan prestasi merupakan kegiatan awal pembelajaran. Kegiatan itu perlu dirancang sebaik mungkin guna mengkoordinasikan murid-murid untuk “siap” belajar, menerima pelajaran dengan bertanya dan menggali ilmu pengetahuan yang akan dipelajari. Kegiatan yang bisa memberikan motivasi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan, misalnya metode ceramah (bercerita), peragaan, demonstrasi, dan sosiodrama dengan bermain peran, serta metode tanya jawab. Pada kegiatan memberikan motivasi, guru hendaknya memberikan pertanyaan awa yang mengarahkan pada materi yang akan dibahas, sehingga muncul berbagai opini anak tentang bebagai macam pelajaran. Hal ini penting sekali bagi murid untuk menghilangkan pola pembelajaran DDCH (duduk, dengar, catat dan hapal). Pola pembelajaran DDCH punya kelemahan, yaitu :

1. kurangnya interaksi guru sehingga murid dapat menurunkan motivasi anak belajar

2. murid apatis karena tidak ada keaktifan terlihat dalam proses pembelajaran.

3. murid kesulitan memahami konsep materi pelajaran.

4. munculnya trauma murid kepada guru yang mengajar

5. materi pelajaran yang diserap murid masuk dalam ingatan jangka pendek alias STM (short time memory).

6. prestasi pembelajaran IPA SD cenderung menurun.

Untuk mengurangi bebagai permasalahan diatas, guru dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran “PAKEMI” dan inovatif, pembelajaran aktif, kreatif, enak, menyenangkan. Pendekatan pembelajaran PAKEMI paling tidak dapat membawa angin perubahan dalam pembelajaran, yaitu :

1. guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antar keduanya.

2. guru dan murid dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam pembelajaran.

3. murid merasa senagn dan nyaman dalam pembelajaran

4. munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas.

Akhirnya pembelajaran yang dilaksanakan jika ingin mencapai “Sukses” sangat bergantung pada beberapa faktor, yaitu : guru, murid, tujuan yang akan dicapai, penggunaan media pembelajaran, metode diterapkan dan sistem evaluasi, pengetahuan yang tepat yang dimiliki siswa mengarahkan perhatiannya pada satu atau dua hal tertentu dari seluruh materi yang sedang dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan siswa ini menjadi semacam penjaring tentang hal-hal yang harus dipelajari, selain itu pengetahuan yang telah dimiliki juga menentukan bangunan pengetahuan yang baru dikonstruksi. Proses belajar siswa sesungguhnya mirip dengan apa yang dilakukan para Ilmuan IPA, yaitu melalui pengamatan dan percobaan. Penelitian IPA adalah penelitian empiris, siswa sekolah dasar juga belajar IPA melalui investigasi yang mera lakukan sendiri. Jika pengalaman itu tidak memadai maka pemahamannya juga tidak lengkap. Investigasi merupakan cara normal bagi siswa yang belajar.

Abstrak mata pelajaran di Sekolah Dasar merupakan program menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan menilai ilmiah kepada siswa. Dengan pelajaran IPA diharapkan siswa dapat memahami konsep-konsep IPA dan keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan dan ide tentang alam (kurikulim SD hal-61). Dilihat dari sisi satau cakupan materi IPA termasuk mata pelajaran yang relatif sarat dengan materi. Secara keseluruhan materi mata perlajaran IPA di SD mencakup (1) makhluk hidup dan proses kehidupannya yaitu manusia, hewan dan tumbuhan serta interaksinya, (2) materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi ; udara, air, tanah dan batuan, (3) listrik dan magnet, energi dan panas, gaya dan pesawat sederhana, cahaya dan bunyi, tatasurya, bumi dan benda-benda langit lainnya, (4) kesehatan makanan, penyakit dan pencegahannya, dan (5) sumber daya alam, pemeliharaan dan kegunaan, pemeliharaan dan pelestarian (program pengajaran IPA, Kur, SD 1994:62). Pembelajaran IPA di sekolah dasar mempunyai misi mengembangkan proses berpikir untuk memperoleh konsep.

Yang menjadi permasalahan adalah menentukan model pembelajaran yang dapat mengembangkan misi pembelajaran IPA tersebut.

Dalam penelitian ini ditawarkan suatu model pembelajaran IPA SD secara terpadu yang dimaksudkan adalah pembelajaran yang menyajikan materi pelajaran secara menyeluruh dan melibatkan adanya proses sehingga anak dapat memperoleh konsep secara bermakna. Model pembelajaran IPA secara terpadu disini disajikan dengan metode eksperimen, dengan tujuan agar dapat memajukan antara materi dengan proses atau memadukan antara teori dengan praktek, baik yang terjadi dalam lingkungan alam maupun yang diterapkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas yang dimaksudkan adalah pembelajaran IPA baik yang secara terpadu maupun pembelajaran IPA secara biasa. Sedangkan dimaksud dengan variabel terikat adalah hasil belajar anak setelah mengikuti pembelajaran yang mencakup penguasaan konsep, pengembangan sikap ilmiah dan pengembangan persepsi terhadap keterampilan proses. Menggunakan analisis perbedaan dua rata-rata yang dimaksudkan untuk melihat sejauh mana efektifitas pembelajaran IPA secara terpadu tersebut, terhadap hasil belajar siswa tentang IPA.

Dari hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa dengan pembelajaran IPA secara terpadu dapat : (1) Mencapai penguasaan konsep pada siswa lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran IPA secara biasa, (2) Mengembangkan sikap alamiah pada siswa lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran IPA secara biasa, dan (3) mengembangkan persepsi terhadap keterampilan, proses pada siswa lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran IPA secara biasa.

Setelah selesai dengan kegiatan awal guru dapat melanjutkan dengan kegiatan inti yang meliputi berbagai kegiatan yaitu pembelajaran kelompok kerja, pengajaran tugas dalam kelompok, penjelasan, tanya jawab, pemaparan hasil kerja kelompok dan kesimpulan.

Sedangkan kegiatan penutup pelajaran dapat dijadikan kegiatan pemantapan yaitu mengulas kembali semua materi yang telah diserap murid. Selanjutnya ada tanya jawab tentang aplikasi materi pelajaran yang sudah dibahas dengan penerapan yang terjadi di sekitar murid. Kegiatan akhir penutup adalah post test pemberian evaluasi akhir pelajaran untuk mengetahui daya serap murid terhadap pembelajaran yang dilaksanakan.

Berdasarkan pengalaman selama kegiatan konsep “kerja ilmiah” yang termuat dalam kurikulum SD 2004 telah banyak melibatkan siswa secara aktif khususnya pada sub konsep keterampilan proses. Para siswa sudah mempu melakukan pengamatan, menentukan variabel penelitian dan menganalisis langkah-langkah penelitian. Kondisi ini tidak sama halnya dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah yang berada di daerah atau di luar daerah. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan guru bidang studi pendidikan IPA pembelajaran IPA masih menekankan pada konsep-konsep yang terdapat didalam buku (Conseptual Learning) dan kurang memanfaatkan lingkungan dan sumber-sumber pembelajaran yang ada di sekitar sekolah (Contextual Learning and Teaching). Selama ini siswa dianggap berhasil dalam belajar bilamana mereka telah menguasai isi buku yang disampaikan guru, tanpa memikirkan seberapa jauh mereka dapat memahami isi buku apalagi mengingat kuruikulum berbasis kompetensi selanjutnya disingkat KBK tidakhanya menuntut siswa memperoleh sains (IPA) tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir dan sejumlah keterampilan proses (Depdiknas. 2001).

Menurut penelitian Dewey (1916) dalamToharudin (2005) siswa akan belajar denan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang tekah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.

Dalam pelaksanaannya pembelajan IPA sealalu berkaitan dengan metode ilmiah. Penggunaan metode ini pada dasarnya tidak terlepas dari bebagai pendekatan-pendekatan terutama pendekatan proses. Proses merupakan sekumpulan keterampilan intelektual yang harus dimiliki oleh para siswa sebagai bekal dalam mempelajari IPA.

Prestasi belajar siswa tidak semata-mata berasal dari pengetahuan yang ditransfer langsung dari pikiran guru ke dalam pikiran siswa. Hal ini disebabkan siswayang datan g ke sekolah sudah membawa pengetahuan awal yang siap dikembangkan dengan bimbingan guru, sesuai dengan kaidah pembelajaran yakni proses interaksi antara guru dengan siswa. Dalam proses pembelajaran, guru memberikan bimbingan, menyediakan berbagai kesempatan yang dapt mendorong siswa belajar, dan memperoleh pengalaman sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dikatakan tercapai ditandai oleh tingkat penguasaan kemampuan dan pembentukan kepribadian (Hamalik, 2002).

Dalam upaya mencapai tujaun pembelajaran, guru dituntut untuk menggunakan strategi pembelajaran yang bersifat kontekstual dan memberikan keiatan yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individu siswa, mengaktifkan siswa dan guru mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyarakat. Pada akhirnya siswa memiliki motivais tinggi untuk belajar (Toharudin, 2005). Salah satu cara yaitu melalui pembelajaran yang dilaksanakan di luar kelas agar terjadi interaksi secara langsung antara siswa dengan lingkungannya.

Menurut Toharudin (2005) memanfaatkan lingkungan untuk memperoleh pengalaman belajar yakni dengan cara memberikan penugasan siswa untk belajar di luar kelas. Jadi lingkungan sebagai salah satu kajian dalam IPA dapat dimanfaatkan dalam mempelajari konsep “kerja ilmiah”. Dalam hal ini Napari dkk (2004) melaporkan hasil penelitiannya bahwa pendekatan lingkungan dapat meningkatkan produk, proses, keterampilan dan meningkatkan kinerja para siswa SD dalam pembelajaran IPA. Sedangkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran untuk memahami konsep “kerja ilmiah” masih belum pernah dilaksanakan. Proses pembelajaran dengan konteks lingkung akan berjalan efektif apabila ada kerjasama dalam kelompok, makam penyelidikan kelompok (group investigation) merupakan salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif yang mungkin dapat mengatarkan siswa belajar dengan biak dalam upaya memahami keterampilan proses dalam “kerja ilmiah”.

Dalam memahami keterampilan proses siswa tidakselalu terikat dengan urutan materi berdasarkan kurikulum. Ini menjadi alasan penyelidikan kelompok bisa dijadikan metode dalam pembelajaran konsep “kerja ilmiah”. Atas pertimbangan ini pula maka perlu dilaksanakan penelitian tentang optimalisasi pemahaman siswa tentang konsep “kerja ilmiah” dengan menggunakan pendekatan lingkungan. Penentuan sekolah ini sebagai tempat penelitian didasarkan pada pengamatan dalam proses pembelajaran IPA tentang konsep “kerja ilmiah” yang belum maksimal dan cenderung diajarkan secara verbal saja.


Rumusan Dan Pemecahan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Apakah pemahaman siswa tentang konsep “kerja ilmiah” dengan menggunakan pendekatan lingkungan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai berikut ;

1. Sebagai bahan informasi bagi guru dan pendidik lain dalam mengembangkan pembelajaran.

2. Sebagai bahan informasi bagi Dinas Pendidikan tentang inovasi dalam proses pembelajaran.

3. Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran IPA.

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut melalui pembelajaran yang dirancang dengan penelitian tindakan kelas, maka akan meningkatkan pemahaman siswa pada konsep “kerja ilmiah”.


Tinjauan Umum Pembelajaran Konsep “Kerja Ilmiah”

Selama ini keterampilan proses cenderung diajarkan secara konseptual. Siswa belum dapat meraih potensinya dari proses pembelajaran di sekolah. Selama ini siswa hanya mempelajari fakta dan gagasan-gagasan tetapi belum dapat menggunakannya secara efektif.

Dalam KBK “kerja ilmiha” merupakan suatu konsep yang diorganisasikan dan disusun ke dalam salah satu dari 7 (tujuh) lingkup pembelajaran sains/IPA yakni sebagai lingkup proses (Depdiknas. 2001). Lingkup proses “kerja ilmiah” bertautan erat dengan konsep, maka “kerja ilmiah” adalan mengintegrasikan isi sains kedalam kegiatan-kegiatan pembelajaran yang membekali siswa pengalaman belajar siswa secara langsung. Pemberian pengalaman belajar secara langsung ini sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah.


Konsep “Kerja Ilmiah” Dalam Kurikulum

Dasar utama pembelajaran mengenai konsep “kerja ilmiah” mengacu pada KBK 2004. Adapun konsep “kerja ilmiah” terdiri atas 4 kompetensi dasar yang harus dikuasai dalam bidang IPA, mengkomunikasikan hasil penyelidikan ilmiah, dan bersikap ilmiah. Dalam buku penuntun IPA SD kelas 6 (Pratiwi, dkk. 2004) membagi “konsep ilmiah” menjadi 2 sub konsep, yakni : keterampilan proses sains dasar dan keterampilan proses sains terpadu. Jadi dalam pembelajaran konsep “kerja ilmiah” tidak lepas dari kedua macam keterampilan. Karena menurut Pratiwi, dkk. (2004) dalam mempelajari sains IPA khususnya untuk mempelajari gejala yang berhubungan dengan makhluk hidup dilakukan alam melalui proses dan sikap ilmiah yang akhirnya akan menghasilkan produk ilmiah. Sikap dan produk ilmiah tersebut tecakup dalam ke-2 keterampilan proses di atas. Jadi dalam proses pembelajaran dengan mengajak siswa ke lingkungan sudah mencakup kedua keterampilan proses.

Keterampilan proses dasar dalam “kerja ilmiah” di antaranya adalah : pengamatan, pengklasifikasian, pengkomunikasian/komunikasi, menafsirkan, memprediksi/bertanya. Sedangkan keterampilan dasar terpadu di antaranya adalah mengidentifikasi variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, mendeskripsikan hubungan antar variabel, dan perolehan serta pemrosesan data (Pratiwi, dkk. 2004).

Dimyati & Mudjiono (2002) menguraikan lebih jauh pengertian dari ke-5 keterampilan proses dasar di atas sebagai berikut :

a. Pengantar/observasi yaitu tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan menggunakan panca indera. Kemampuan mengamati ini merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang lain.

b. Pengelompokkan/menggolongkan atau mengklasifikasi merupakan keterampilan proses untuk memilah bebagai objek atau peristiwa yang dimaksud.

c. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara visual. Contoh kegiatan mengkomunikasikan adalah mendiskusikan suatu masalah, membuat laporan, membaca peta dan kegiatan sejenis lainnya.

d. Penafsiran/menafsirkan artinya memberikan arti suatu fenomena/kejadian berdasarkan atas kejadian lainnya.

e. Memprediksi/bertanya dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan.

Dari ke-5 keterampilan proses dasar dan terpadu di atas pada hakikatnya semuanya dapat dilakukan baik di lingkungan maupun di dalam kelas.


Pendekatan Lingkungan

Menurut Sertain (Dalyono, 1997), lingkungan dapat dibedakan atas lingkungan alami (luar), lingkungan dalam dan lingkungan sosial/masyarakat. Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak pertama kali akan belajar dan memahami sesuatu dari lingkungannya. Begitu pula halnya dalam belajar dan memahami konsep dan prinsip dalam IPA diperlukan suatu pendekatan yang mampu mewujudkan hal-hal yang diinginkan, yakni salah satunya dengan pendekatan lingkungan.

Pendekatan lingkungan berarti mengajak siswa belajar langsung di lapangan tentang topik-topik pembelajaran. Tang (2002) mengemukakan adanya hubungan antara manusia dengan lingkungan merupakan hubungan yang saling mempengaruhi sehingga lahir interaksi. Pendekatan lingkungan menurut Yulianto (2002), merupakan suatu interaksi yang berpangkal kepada hubungan antara perkembangan fisik dengan lingkungan sekitarnya. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar berarti siswa menampilkan contoh-contoh penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain siswa datang menghampiri sumber-sumber belajarnya.

Dalam menggunakan pendekatan lingkungan bukan berarti mengeksploitasi alam akan tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan. Dalam menggunakan pendekatan ini, materi pelajaran telah disesuaikan dengan lingkungan sebagai konteks pembelajaran, baik berupa benda, peristiwa, atau keadaan yang dapat mempengaruhi siswa sebagai subyek pebelajar.

Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan dari lingkungan ada 3 jenis, yaitu siswa itu sendiri, sumber belajar disekitar atau di luar sekolah dan peristiwa silam yang sering terjadi secara teratur maupun kebetulan. Jadi pendekatan lingkungan terdiri dari 2 buah cara pembelajaran, yakni siswa belajar langsung ke lingkungan dan siswa belajar di dalam ruangan, dengan pembelajaran yang berorientasi ke lingkungan. Siswa belajar langsung ke lingkungan jarang dilaksanakan, dan merupakan inovasi baru dalam pembelajaran IPA.

Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan memerlukan jenis pembelajaran yang sesuai. Salah satu jenis pembelajaran yang dapat dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang terpencar dalam pembelajaran kooperatif metode pendidikan kelompok.


Penyelidikan Kelompok Sebagai Salah Satu Ragam Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Menurut Ibrahim dkk. (2000) pembelajaran kooperatif didirikan oleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Salah satu model pembelajaran kooperatif yakni Penyelidikan Kelompok (Investigasi Kelompok). Penyelidikan kelompok mungkin merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan sulit untuk diterapkan. Model ini diperkenalkan pertama kali oleh Thelan kemudian dikembangkan oleh Shalan dan kawan-kawan. Model ini lebih menekankan pada siswa, di mana siswa terlibat secara langsung dalam perencanaan, baik topik maupun jalannya penyelidikan mereka (Ibrahim dkk. 2000)

Menurut Irawan dkk., (1994) model belajar penyelidikan kelompok mengambil model yang berlaku dalam masyarakat, terutama mengenai cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui serangkaian kesepakatan sosial. Melalui kesepakatan-kesepakatan inilah pebelajar mempelajari pengetahuan akademis dan mereka melibatkan diri dalam pemecahan masalah sosial.

Di dalam model ini terdapat tiga konsep utama, yaitu penelitian atau “inquiry”, pengetahuan atau “knowledge”, dan dinamika belajar atau “the dinamic of the learning group”. Penelitian adalah proses dimana siswa dirangsang dengan cara menghadapkannya pada masalah. Di dalam proses ini siswa memasuki situasi di mana mereka memberikan respon terhadap masalah yang mereka rasakan perlu untuk dipecahkan. Masalah itu sendiri bisa berasal dari siswa atau diberikan oleh guru dan harus berorietasi ke lapangan, misalnya siswa diminta mengumpulkan data tentang penduduk, penyakit, dan lain-lain, maka siswa harus bekerjasama dalam kelompok dan dalam bekerja dituntut kemandirian.


Sintaks Pembelajaran Dalam Penyelidikan Kelompok

Model pembelajaran penyelidikan kelompk memiliki 6 tahapan. Menurut Sharan dkk. (1984) dalam Ibrahim dkk. (2000) keenam tahapan tersebut sebagai berikut :

1. Pemilihan Topik

Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang telah ditetapkan oleh guru. Seperti data tentang kependudukan, kesehatan masyarakat, dan lain-lain. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi 2 sampai 6 anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.


2. Perencanaan kooperatif

Sisw adan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.

3. Implementasi

Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber bejalar yang berbeda baik di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.

4. Analisi dan Sintesis

Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut ringkas disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.

5. Presentasi hasil final

Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain saling terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif yang luas dalam topik itu, presentasi dikoordinasi oleh guru.

6. Evaluasi

Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok. Keenam tahapan atau fase tersebut menjadi fase-fase dalam pembelajaran dalam penyelidikan kelompok.


Hasil-Hasil Penelitian Pendekatan Lingkungan Dalam Pembelajaran

Penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan lingkungan telah banyak dilakukan di negara-negara lain. Wise dan Okey (1983) dalam Lisowski, dkk (1987) melaporkan hasil penelitian yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan lingkungan pada umumnya lebih efektif daripada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengalaman langsung merupakan proses pembelajaran yang bermakna, baik baik guru maupun bagi siswa. Dalam hal ini, Arie (2003) telah melaksanakan penelitian dengan menggunakan paket indera dalam program pendidikan kesadaran lingkungan, hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini dapat meningkatkan kesadaran para siswa yang berpengaruh terhadap cara berpikir, bersikap dan berprilaku positif terhadap lingkungan.

Pembelajaran yang berlatar lingkungan dengan pendekatan problem posing yang dilakukan penelitian membuktikan; 1) pendekatan problem posing-metode Brown dan Walter dapat mengoptimalkan pemahaman siswa tentang sub konsep etika lingkungan, dan 2) pendekatan problem posing-metode Brown dan Walter dapat mengoptimalkan respon siswa tentang sub konsep etika lingkungan (Herliyuni, 2004). Wulandari (2005) melaporkan hasil penelitian integrasi pendekatan STM dengan memanfaatkan laboratorium alam, bahwa ada peningkatan pemahaman siswa tentang konsep Pencemaran Lingkungan dengan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat dan pendekatan lingkungan. Bagitu juga terjadi peningkatan respon siswa saat pembelajaran materi Pencemaran Lingkungan melalui pendekatan sains teknologi masyarakat dengan memanfaatkan laboratorium alam.

Penggunaan lahan basah untuk mengoptimalkan pemahaman siswa tentang konsep ekosistem dengan menggunakan pendekatan lingkungan juga telah dilaporkan (Afriani, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran menggunakan pendekatan lingkungan dapat mengoptimalkan pemahaman siswa tentang konsep ekosistem; (2) Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan lingkungan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang pembelajaran konsep ekosistem dilihat dari ketuntasan hasil belajar siswa untuk postes siklus 1 dari 78,6% menjadi 86,9% pada siklus 2, sedangkan untuk hasil selama proses pembelajaran siklus 1 dan siklus 2, 100%; (3) Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan lingkungan dapat mengoptimalkan respon siswa yang meliputi kinerja siswa selama proses pembelajaran.

Noorhasanah (2005) melaporkan hasil penelitianya tentang pemahaman konsep keanekaragaman hayati melalui pendekatan STM. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep keanekaragaman dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa dengan pendekatan lingkungan lebih tinggi. Hasil uji-t dua sampel independen menunjukkan bawha t hitung > t tabel. Kemudian siswa denagn pendekatan lingkungan lebih banyak menjawab soal dengan benar dan hasil belajar menunjukkan bahwa dengan menggunakan pendekatan lingkungan pembelajaran tuntas secara klasikal tetapi tidak tuntas secara individu naun dengan jumlah yang sedikit. Dengan demikian, pendekatan lingkungan mampu meningkatkan hasil belajar konsep makhluk hidup pada siswa (Nissa, 2004). Dari rangkaian penelitian di atas, pendekatan lingkungan sebagai inovasi dalam pembelajaran telah dapat disejajarkan dengan pendekatan-pendekatan konstruktivis lainnya, khususnya dalam meningkatkan proses dan hasil belajar, serta kinerja guru dalam pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Link Sahabat